Kamis, 21 Juni 2012

Estimasi Jumlah Pemakai Air Bersih

TUJUAN:Dapat mengestimasikan kebutuhan air bersih untuk sejumlah penduduk, atau sebaliknya dapatmengestimasikan jumlah penduduk yang dapat dilayani suatu debit air.

CARA MENGHITUNG: Rumus yang paling sederhana adalah 1 liter per detik mampu melayani 1000 orang di desa untuk semua kebutuhan manusia. Jadi dapat menghitung kebutuhan air dengan membagi jumlahpenduduk dengan 1000 – hasilnya langsung dalam satuan liter per detik.Alternatif adalah menghitung jumlah penduduk dengan diketahui debitnya. Debit dalam liter perdetik dikalikan 1000 untuk langsung mendapat jumlah orang.

CONTOH SOAL:

1. Debit 2,4 liter per detik mampu melayani berapa orang?2,4 liter/detik X 1000 orang/(1 liter/detik) = 2400 orang

2. Dua dusun dengan pendukuk 800 manusia dan 1100 manusia perlu debit sebesar apa?Jumlah penduduk adalah 800 + 1100 menjadi 1900Dengan pakai rumus atas,1900 orang/(1000 orang/(1 liter/detik) = 1,9 liter per detik Catatan: Jika sumber air sangat terbatas, dan masyarakat setuju untuk menggunakanair hanya untuk air minum dan masak, air sebanyak 1 liter/detik masih mampu untuk mencukupi kebutuhan 2000 orang.

Sabtu, 16 Juni 2012

Incinerator, berkah atau bencana ?

Incinerator solusi untuk menyelesaikan masalah sampah ? BERKAH ATAU BENCANA ?

            Permasalahan sampah di DKI Jakarta sangatlah pelik, dari mulai mencari lokasi penimbunan yang selalu menimbulkan gejolak penolakan masyarakat disekitarnya, sampai mencari solusi penanganan/ pemusnahan yang penuh intrik dan kepentingan bisnis berbagai pihak. Sehingga Gubernur Sutiyoso pun dibuat pusing olehnya, melebihi pusingnya menghadapi para demonstran yang menentang pengangkatannya dulu. Masalah sampah tidak dapat dibiarkan begitu saja, seperti menghadapi demostran didiamkan akan hilang sendirinya seiring berjalannya waktu. Sampah semakin dibiarkan akan semakin menumpuk, menunda membersihkannya berarti semakin menumpuk permasalahan yang akan ditimbulkannya.

            Walaupun demikian pelik, tetapi memusnahkan sampah dengan membakar menggunakan incinarator bukanlah solusi yang tepat, bahkan sangat membahayakan kelangsungan kehidupan. Banyak permasalahan yang ditimbulkan oleh incinerasi sampah dibandingkan manfaat yang dihasilkannya. Memang secara kasat mata volume reduksi yang dihasilkannya sangat menjanjikan, dari segunung sampah padat dapat menjadi hanya beberapa karung abu. Tetapi ada hal yang tidak kasat mata dan dapat dibuktikan secara kimiawi dihasilkan pada proses pembakaran sampah. Banyak senyawaan kimia sangat beracun terbentuk pada proses pembakaran sampah yang tidak terkontrol, apalagi jika sampah yang dibakar adalah sampah yang heterogen, belum lagi ditinjau dari segi ekonomi dan dampak sosialnya.

            Tulisan ini akan mengupas sedikit tentang dampak pembakaran sampah dengan incinerator, sehingga masyarakat umum dapat memahami. Terutama para pengambil kebijakan dalam persampahan, dapat bersikap lebih arif dan berfikir berulang kali, sebelum memutuskan untuk mengolah sampah padat dengan membakar menggunakan incinerator. Hal yang perlu menjadi suatu pertimbangan sangat penting dalam incenerasi sampah ialah, tentang polutan yang dilepaskan ke udara atau media lainnya, biaya yang diperlukan dan tenaga kerja yang tersingkirkan serta hilangnya energi pada proses incinerasi.

            Banyak polutan yang dihasilkan pada incinerasi sampah, apalagi sifat sampah domestik (sampah rumah tangga dan pasar) yang heterogen. Segala macam benda ada didalamnya, sisa makanan, sisa sayuran dan buah-buahan, bekas pembungkus (kaleng, karton dan plastik), kayu, logam, batu, gelas dan lain-lainnya. Sampah yang heterogen ini jika langsung di incinerasi tanpa dilakukan pemilahan sebelumnya maka hasilnya sangatlah berbahaya. Sampah basah, sisa makanan, buah-buahan dan sayuran jika akan diincinerasi memerlukan energi yang sangat besar untuk mngeringkannya sebelum dapat terbakar. Sedangkan material sampah yang berupa logam, batu, tanah dan gelas tidak dapat terbakar, material ini hanya akan menggangu proses pembakaran dan memboroskan energi.

           

Dioksin dan Furan.

Hasil emisi yang paling berbahaya pada pembakaran sampah heterogen ialah terbentuknya senyawa dioksin dan furan. Dioksin dan furan adalah sekelompok bahan kimia yang tidak berwarna dan tidak berbau. Dalam molekulnya mengandung atom karbon, hidrogen, oksigen dan klor. Dioksin terdiri dari 75 senyawaan kimia yang dibedakan oleh posisi dan jumlah atom klornya, sedangkan furan terdiri dari 135 senyawaan.

Dioksin dilingkungan dapat bertahan dengan waktu paro (waktu yang diperlukan sehingga jumlahnya tinggal separonya) sekitar tiga tahun, tetapi akibat yang telah ditunjukkannya karena masuknya dioksin dalam rantai makanan sangat mengerikan. Pengaruh dioksin pada manusia telah banyak menjadi perbincangan dalam dua dekade terakhir, bukan karena kesabilan dari dioksin tetapi disebabkan karena dioxin itu adalah suatu racun yang sangat kuat. Dioksin saat ini dipercaya sebagai senyawa yang paling beracun yang pernah ditemukan manusia, karena dapat menyebabkan kerusakan organ secara luas misalnya, gangguan fungsi hati, jantung, paru, ginjal serta mengganggu fungsi metabolisme dan menyebabkan kerusakan pada sistem kekebalan tubuh. Pada percobaan terhadap binatang di laboratorium, dioksin menunjukkan carcinogenic (penyebab cancer ), teratogenic (penyebab kelahiran cacat) dan mutagenic (penyebab kerusakan genetic). Dari seluruh golongan senyawa dioksin yang paling beracun ialah senyawa 2,3,7,8-Tetra-Chloro-Dibenzo-para-Dioxin atau disingkat 2,3,7,8-TCDD yang menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO) mempunyai nilai tingkat bahaya racun (TEF/Toxic Equivalency Factors) adalah 1 (satu) dan ini merupakan nilai yang paling tinggi dibandingkan dengan Strychnine (racun tikus) hanya 1/2000 dan Sianida (banyak digunakan untuk meracuni ikan) yang hanya 1/150.000.


Gambar 1: Rumus molekul Dioksin dan Furan.

Kejadian masa lalu yang menyebabkan manusia terpapar oleh dioksin adalah kasus Orange Agent (yang terkontaminasi dioksin), yaitu herbisida yang digunakan oleh tentara Amerika pada perang Vietnam untuk merontokkan daun agar hutan menjadi gundul dan musuh dapat terlihat. Telah menyebabkan banyak kasus kematian akibat kanker dan bayi lahir cacat di Vietnam usai perang melawan Amerika, bahkan para veteran tentara Amerika pun banyak yang terkena kanker setelah terpapar dioksin. 

Baik dioksin maupun furan tidak mempunyai nilai komersial, senyawaan ini terbentuk secara tidak sengaja karena akibat aktifitas manusia, misalnya pada pembakaran sampah atau produk samping pada pembuatan pestisida seperti Pentachlorophenol (PCP). Pada proses pembakaran sampah, terutama jika sampah yang dibakar adalah material organik yang kompleks (lignin, kayu, kertas, plastik, dll) dengan adanya donor atom Klor (garam dapur/natrium klorida, asam klorida, senyawaan organik yang mengandung klor, plastik/PVC, dll). Campuran material tersebut  jika dibakar pada suhu antara 400oC sampai dengan 600oC sangat berpotensi terbentuk dioksin, apalagi jika pembakarannya tidak sempurna, kekurangan oksigen dan pemanasannya tidak merata. Dioksin 98% terbentuk di fly ash (abu hasil pembakaran) dan bukan di asapnya. Tetapi jika suhu pembakarannya lebih besar dari 800oC (tidak perlu sampai 1500oC) maka dioksin akan hancur terurai membentuk karbon dioksida/CO2 , air/H2O dan asam klorida/HCl.

Pada tahun 2000 lalu, WHO merekomendasikan bahwa jumlah dioksin yang diperbolehkan masuk ke dalam tubuh manusia per hari agar tidak menimbulkan bahaya (Tolerable Daily Intake) adalah 1 sampai dengan 4 pikogram ( 10-12 gram) per kilogram berat badan. Untuk mendeteksi dioksin adalah sangat sulit karena jumlahnya yang sangat kecil sekali sehingga diperlukan suatu instrumen yang sangat sensitif yaitu GCMS (Gas Chromatograph Mass Spectrometer)-High Resolution, bahkan di Indonesia tidak ada satu Laboratoriumpun yang kompeten untuk menganalisanya.



Logam berat dan gas pembentuk hujan asam.

            Selain dioksin dan furan, incinerator juga merupakan sumber utama pencemar logam berat misalnya, mercury (Hg), timbal (Pb), kadmium(Cd), arsen(As), cromium(Cr) dan gas pembentuk hujan asam yaitu oksida nitrogen (NOx) dan oksida sulfur (SOx). Logam-logam  berat tersebut pada proses incinerasi sangat mudah menguap, walaupun telah berbentuk oksidanya sifat racunnya hampir tidak berkurang. Misalnya mercury, merupakan racun yang sangat kuat menggangu sistem saraf, panca indera dan menurunkan kecerdasan, demikian pula pengaruh logam-logam berat lain pada umumnya.

            Oksida nitrogen (NOx) dan oksida sulfur (SOx) adalah gas pembentuk hujan asam, jika banyak terdapat diudara dan terjadi hujan maka airnya akan bersifat asam. Hujan asam ini dapat menyebabkan korosif pada bangunan/gedung , tanah menjadi tandus dan gatal-gatal jika terkena  kulit, sedangkan gasnya sendiri dapat menyebabkan kerusakan pada sistem pernafasan.



Incinerator.

            Limbah padat (sampah: kota, rumah sakit, pabrik kertas dll) biasanya dimusnahkan dengan dibakar didalam Incinerator (tungku pembakar). Incinerator pada umumnya beroperasi pada suhu antara 400oC - 600oC (suhu yang sangat ideal bagi pembentukan dioksin), jika suhu operasi incinerator dinaikkan hingga lebih besar dari 800oC maka diperlukan biaya operasional yang besar, karena bahan bakar yang diperlukan juga banyak. Disamping hal tersebut peralatan incineratornya juga akan cepat rusak dan berkarat karena suhu tinggi, jika di dalam incinerator digunakan  batu tahan api maka akan mudah pecah atau retak, sehingga biaya perawatan incineratornya akan sangat besar.

            Banyak kaum industriawan pembuat incinerator yang membodohi kita, dikatakan incinerator buatannya sanggup membakar sampah pada suhu diatas 800 oC. Tetapi kalau kita amati dengan seksama, ternyata termometer pengukur suhu di tempatkan sedemikian rupa sehingga yang terukur adalah titik api pembakarnya dan bukan suhu gas buang hasil pembakarannya. Tentunya ini sangat ironis, karena pembentukan dioksin ada didalam gas buang hasil pembakarannya terutama di dalam fly-ash (abu terbang), sehingga persyaratan suhu tinggi diatas 800 oC adalah suhu bagi gas buangnya, bukan hanya suhu proses pembakarannya. Suhu tinggi ini harus tetap dapat dipertahankan ketika material baru sampah padat dimasukkan ke dalam incinerator. Biasanya ketika diberikan input baru sampah padat, maka suhu incinerator akan turun drastis, jika terjadi fluktuasi suhu maka incinerator tersebut merupakan penghasil dioksin.

Ada pakar incinerator lain mengatakan, untuk mengurangi pencemaran dioksin pada emisi gas buang dari incenarator ialah dengan menambahkan filter yang modern. Perlu kita ingat bahwa filter khusus untuk dioksin harganya sangat mahal, dan secara berkala harus diganti karena cepat mampat dan jenuh, tentunya hal ini akan menambah biaya operasional incinerator. Tetapi yang menjadi permasalahan pokok adalah, setelah dioksin terkumpul di dalam filter mau dikemanakan ? mengingat dioksin adalah zat no 1 paling beracun di dunia.

            Di Jepang saat ini penggunaan incinerator untuk membakar limbah padat mulai dilarang, boleh digunakan tetapi dengan pengawasan ketat sambil menunggu teknologi penggantinya. Menurut berita dari www.asahi.com tertanggal 6-April 1999, bahwa Kementrian kesehatan dan kesejahteraan Jepang telah mensurvei  5886 industri yang mengolah limbahnya dengan incinerator, didapatkan 2046 industri terbukti menghasilkan dioksin, sehingga dari jumlah itu 1393 diperintahkan ditutup secara permanen, sedangkan sisanya 653 ditutup secara bertahap.

            Penggunaan incinerator adalah pemborosan, biaya untuk membeli sebuah incinarator berkisar dari beberapa ratus juta hingga beberapa milyar rupiah. Untuk mengoperasikannya jelas diperlukan bahan bakar yang cukup besar, belum lagi biaya perawatan yang luar biasa besarnya karena beroperasi pada suhu tinggi sehingga komponennya cepat rusak dan karatan.(Ingat kasus incinerator sampah di Kodya Surabaya yang hanya berumur beberapa bulan, padahal incineratornya buatan luar negeri yang dibeli dengan harga beberapa milyar dengan uang rakyat).

 Solusi.

            Mengingat bahaya dan kerugian yang diakibatkan oleh penggunaan incinerator baik secara ekonomi sosial dan dampak perusakan lingkungan, maka perlu dipikirkan dan dikaji lebih mendalam dan seksama tentang penggunaan incinarator untuk pembakaran limbah padat.

Kepada para pembuatan kebijakan atau instansi yang terkait, misalnya Kementrian Lingkungan Hidup agar membuat regulasi yang lebih ketat tentang incenerator jika perlu dilarang digunakan jika telah ditemukan teknologi penggantinya. Incenerator yang telah terlanjur beroperasi harus diawasi secara ketat dan diwajibkan menggunakan sistem pengolah emisi, baik gas buang maupun limbah cairnya, sehingga pencemaran lingkungan dapat ditekan seminimal mungkin.

            Dibalik kegagalan sistem incinerator yang telah ada, sebenarnya hal ini merupakan suatu peluang dan sekaligus tantangan bagi para peneliti di Indonesia, untuk saling berlomba dan mengembangkan ide. Sehingga dapat menciptakan suatu sistem pengolah sampah yang inovatif dengan teknologi yang lebih maju, efisien, tidak boros energi, biaya perawatannya murah dan terutama ramah lingkungan.
re-upload from : www.migas-indonesia.com/files/article/Incinerator_z.doc

Jumat, 15 Juni 2012

Pendingin udara

Pendingin udara atau disebut juga sebagai penyejuk udara atau populer dengan sebutan A/C (bahasa Inggris: Air Conditioner) adalah alat, sistem, atau mekanisme yang dirancang untuk mengalihkan pans dari suatu tempat menggunakan siklus pendinginan. Pendingin udara berfungsi sama seperti kulkas dan pompa panas. Alat ini berguna untuk menyediakan kenyamanan selama hari yang panas di rumah ataupun mobil.
Gambaran sederhana siklus dingin. 1: kondensor, 2: katup ekspansi, 3: evaporator, 4: kompresor.
Sekilas tentang perhitungan AC.
Sebagai contoh AC 1 PK ( 745watt), adapun data konversi energy yang digunakan
1 kCal = 3968 btu/h
1 TR = 3517 kW (Ton Refrigrasi),
1 PK (input) = 2546.699 btu/h
Perlu diingat bahwa daya input dan output tidaklah sama. 1 HP (2547 BTU/hr) adalah besar daya input compressor, Sedangkan 9000 BTU/hr adalah besar beban pendinginan yg mampu diserap oleh evaporator dengan menggunakan compressor yg mempunyai daya 1 HP. Jadi yg disebut AC 1PK, adalah daya dari kompresor tersebut, bukan beban pendinginannya. Cara untuk mengetahui kemampuan beban pendinginan dari sebuah compressor dapat dilihat dari diagram P-h pada siklus kompresi uap standard.
Karena 1 HP yang dimaksud adalah daya kompresor, sedangkan 9000 BTU/hr adalah daya pendinginan. Dengan daya input 2547 BTU/hr, kita bisa mendapatkan efek pendinginan sebesar 9000 BTU/hr. Untuk sistem pendingin, performance sistem ditunjukan dengan Coefficient of Performance (COP) yang besarnya daya pendinginan dibagi daya input kompresor. Untuk air cooled system di Indonesia, nilai COP 3,5 memang sudah tipikal, kalau dengan epavorative cooling (water cooled dengan cooling tower) nilai COP bisa diatas 5.
Sebagai tambahan bahwa sebelum tahun 70′an, para teknisi AC tidak pernah bicara soal PK dalam menentukan kapasitas pendingin suatu AC.
Jaman itu kapasitas pendingin yang dikenal adalah Btuh. Sejak unit AC dari Jepang masuk pasaran, maka istilah PK yang sebenarnya Input Power [bukan kapasitas pendinginan], menjadi patokan penjual, mengapa begitu ?
jawabannya karena ada AC yang membutuhkan input listrik 1 PK kapasitas pendinginannya 8000 Btuh tetapi ada juga AC dengan input power yang sama dengan kapasitas 10.000 Btuh, dan tentunya yang belakangan lebih efisien.
Dasar tukang dagang……pembeli dikecohkan dengan istilah PK tanpa diingatkan untuk melihat yang benar yaitu kapasitas pendinginannya, lalu dipukul rata saja kalau 1 PK sama dengan 9000 Btuh, padahal bisa 8000 sampai 10.000 Btuh tergantung efisiensinya. Percaya atau tidak, dalam sepuluh yang akan datang akan ada AC yang 1 PK nya menghasilkan sekitar 20.000 Btuh. Sistimnya sudah dikembangkan belasan tahun yang lalu, sayangnya material magnit yang ada beberapa tahun yang lalu belum stabil pada temperatur kamar dan didunia ada 3 negara yang meneliti yaitu Amerika, Jepang dan Swedia / Denmark[?].
Jadi kita do’akan saja agar dalam waktu dekat mereka berhasil mendapatkan bahan magnetik yang stabil dan segera melemparnya kepasar karena ukurannya hanya 1/3 dari yang ada sekarang, tidak menggunakan kompresor yang berisik, tidak menggunakan freon dan sangat hemat energi……nama sistimnya “Magnetic Cooling”.
Umumnya AC yang dijual dalam satuan PK:
1/2 PK = 5000 BTU
3/4 PK = 7000 BTU
1 PK = 9000 BTU
1-1/2 PK = 12000 BTU
Sedangkan untuk memudahkan penggunaannya biasanya digunakan rumus 500 btuh/m2 ruangan
Jadi untuk kamar tidur 3 x 4 m² = 12 m² x 500 BTU = 6000 BTU, cukup memakai AC 3/4 PK.
Walau dalam skala lebih rumit ada perhitungan jumlah jendela kaca, jumlah lampu, jumlah orang dalam ruangan, tapi perhitungan simple seperti di atas sudah cukup mewakili pada kondisi wajar.

Kamis, 14 Juni 2012

Sesuaikan Daya Pendingin AC (BTU/hr – PK) dengan ruangan, caranya?

Tentu Anda bingung bagaimana cara memilih AC untuk ruangan Anda? Ada 3 faktor yang perlu diperhatikan yakni daya pendinginan AC (BTU/h – British Thermal Unit per hour), daya listrik (watt), dan PK kompresor. Sebagian dari kita mungkin lebih mengenal angka PK (Paard Kracht/Daya Kuda/Horse Power (HP)) pada AC. Sebenarnya PK itu adalah satuan daya pada kompresor AC bukan daya pendingin AC. Namun PK lebih dikenal ketimbang BTU/hr di masyarakat awam termasuk para teknisi kami dalam service AC di Bali. Terus bagaimana cara menghitung dan menyesuaikan daya pendingin AC dengan ruangan Anda? Untuk menyiasatinya, maka kita konversi dulu PK – BTU/hr – luas ruangan (m2).

1 PK = 9.000-10.000 BTU/h
1 m2 = 600 BTU/h
3 m = 10 kaki —> 1 m = 3.33 kaki
Daya Pendingin AC berdasarkan PK :
AC ½ PK = ±5.000 BTU/h
AC ¾ PK = ± 7.000 BTU/h
AC 1 PK = ± 9.000 BTU/h
AC 1½ PK = ±12.000 BTU/h
AC 2 PK = ±18.000 BTU/h

Kemudian ada rumus untuk menghitung
(W x H x I x L x E) / 60 = kebutuhan BTU
W = panjang ruang (dalam feet)
H = tinggi ruang (dalam feet)
I = nilai 10 jika ruang berinsulasi (berada di lantai bawah, atau berhimpit dengan ruang lain). Nilai 18 jika ruang tidak berinsulasi (di lantai atas).
L = lebar ruang (dalam feet)
E = nilai 16 jika dinding terpanjang menghadap utara; nilai 17 jika menghadap timur; nilai 18 jika menghadap selatan; dan nilai 20 jika menghadap barat.

Misal :
Ruang berukuran 3mx6m atau (10 kaki x 20 kaki), tinggi ruangan 3m (10 kaki) tidak berinsulasi, dinding panjang menghadap ke timur. Kebutuhan BTU = (10 x 20 x 18 x 10 x 17) / 60 = 10.200 BTU alias cukup dengan AC 1 PK.

source : ideaonline

How to convert VA to Watts and KVA to Kilowatts

Basics

Since watts is volts times amps, what is VA? VA (or volt-amps) is also volts times amps, the concept however has been extended to AC power. For DC current

VA = Watts (DC current).

In AC if the volts and amps are in phase (for example a resistive load) then the equation is also

VA=Watts (resistive load)

where V is the RMS voltage and A the RMS amperage.

In AC the volts and amps are not always in phase (meaning that the peak of the voltage curve is does not happen at the peak of the current curve). So in AC, if the volts and amps are not precisely in phase you have to calculate the watts by multiplying the volts times the amps at each moment in time and take the average over time. The ratio between the VA (i.e. rms volts time rms amps) and Watts is called the power factor PF.

Rabu, 06 Juni 2012

Air Suling Tambah Coolant Merupakan Air terbaik Untuk Radiator Mobil

Mengisi air radiator kelihatannya adalah persoalan sangat sederhana. Tetapi jika Anda salah memilih air, bisa-bisa mengganggu sistem pendingin mobil, yang bisa berakibat fatal pada mesin. Jika Anda bertanya ke bengkel, jenis air apa yang bagus untuk radiator, pasti banyak jawbannya. Ada yang menyebutkan air mineral, air coolant, air buangan AC dan sebagainya. Sebenarnya, air apakah yang paling baik digunakan untuk radiator mobil kita?

Air radiator yang bagus adalah air suling, atau lebih dikenal sebagai aqua destilata yang bisa dibeli di toko-toko kimia. Ada juga orang yang rajin mengumpulkan tetesan air AC kemudian disaring. Dalam hal ini sama saja kualitasnya, karena air tetes AC adalah air hasil kondensasi.

Tetapi jangan coba-coba memakai air minum mineral untuk mengisir radiator. Sistem pendingin mobil kita berbeda dengan tubuh manusia yang membutuhkan mineral. Pada sistem pendingin, ketika mesin bekerja pada temperatur 80-90 derajat celcius dan tekanan cukup tinggi, kandungan mineral akan menyebabkan terjadinya endapan pada dinding sistem pendingin. Selain itu zat-zat yang ikut beredar dan akan mengganggu sistem (pompa air, termostat, dan kemungkinan menyumbat radiator).

Untuk menambah kemampuan air pendingin, sebaiknya aqua destilata juga ditambahkan coolant yang akan menjaga agar air tidak mudah mendidih dan melapisi seluruh dinding sistem agar tidak mudah timbul karat.
 (sumber : liputan6.com)

Bahan Kuliah Statistik Industri

Statistik adalah kumpulan keterangan yang disusun atau disajikan dalam daftar atau gambar yang melukiskan atau menggambarkan sesuatu. oleh karena itu timbul berbagai macam sebutan statistik, misalnya :
a. Statistik produksi, data yang tersaji menggambarkan banyaknya produksi dari berbagai jenis barang yang telah dihasilkan.
b. Statistik ekspor impor, data yang tersaji menggambarkan banyaknya ekspor dan impor yang telah dilakukan.
c. Statistik penerimaan dan pengeluaran uang, data yang tersaji menggambarkan banyaknya penerimaan dan pengeluaran uang dari suatu perusahaan.
d. Statistik perdagangan, data yang tersaji memberikan informasi tentang jenis dan volume perdagangan yang telah dijalankan.
Metode statistik sebenarnya memberikan cara-cara yang berguana untuk menarik kesimpulan tentang ciri-ciri populasi yang tertentu dari hasil analisis serangkaian sampel yang diambil dari populasi tersebut.
Peran statistik dalam industri dimulai dari pengendalian bahan baku, proses produksi sampai hasil produk. Statistik juga berperan dalam mengembangkan produk dan mencari gagasan untuk menciptakan produk melalui riset pasar. bahan statistik industri dapat didownload disini :Statistik-industri